Pendekar Dari Kaki Gunung Sago ; Bagian 063

“Kini tugas kita menghilangkan jejak jeep itu…” Suman berkata.

“Kau teruslah ke Buluh Cina, tentang jejak jeep ini serahkan pada kami di sini. Jangan khawatir”



Suman jadi lega. Dia lalu melanjutkan perjalanan ke Buluh Cina. Dari desa Kutik itu dia harus meliwati hutan belantara sejauh dua kilometer. Baru kemudian tiba di kampung Bontu yang terletak di tepi Batang Kampar. Dari kampung ini dia dapat kabar bahwa Bilal sudah diantar menyeberang ke Buluh Cina bersama anak muda yang luka itu. Senjata ditinggalkan di sebuah rumah pejuang anggota fisabilillah di Bontu tersebut. Dan dengan sampan, Suman diantar pula ke kampungnya, ke Buluh Cina. Tugas utama mereka semua, yaitu menyampaikan berita pada keluarga Pak Rajab, bahwa dia selamat, kini bertambah tugas lain. Yaitu lari dari kejaran Belanda dan menyelamatkan nyawa si Bungsu.

Dan sepeninggalnya, penghulu kampung segera mengumpulkan penduduk yang jumlahnya hanya puluhan orang. Kepada mereka dia ceritakan  perjuangan yang telah dilakukan pejuang-pejuang dari Buluh Cina dan Perhentian Marpuyan itu.

Dan dengan semangat perjuangan yang tebal, penduduk ini segera turun tangan. Menghilangkan jejak jeep yang tadi dibawa oleh Bilal. Mereka bekerja sepanjang siang, sore dan malam. Dan menjelang Isya pekerjaan itu selesai. Mereka pulang dengan perasaan tenteram.



Kesibukan tentara Belanda segera saja meningkat karena kehilangan sebuah power wagon dengan enam belas tentaranya itu. Malam itu juga sepasukan tentara yang terdiri sebuah truk penuh dan dua buah jeep bermitraliyur mendatangi Perhentian Marpuyan. Penduduk segera saja diinterogasi. Ditanya apakah mereka melihat jeep dan power wagon itu.

Penduduk Marpuyan yang jumlahnya tak sampai seratus orang itu telah “diatur” oleh pemilik kedai yang juga adalah Imam di kampung itu. Dan semua penduduk dengan suara pasti menjawab bahwa mereka memang melihat jeep dan power wagon itu. Jeep yang pertama setelah menurunkan gadis dan ibunya itu terus ke arah Taratak Buluh. Tak lama kemudian datang power wagon dengan selusin tentara di atasnya.

Power wagon itu juga terus ke arah Teratak Buluh. Tentara Belanda itu meneruskan jalannya ke Teratak Buluh dalam usaha mencari jejak patroli yang tak kembali itu. Namun mereka dibuat kaget. Sebab di Teratak Buluh, tak satupun orang yang pernah melihat kedua kendaraan itu muncul!.



Mereka lalu kembali lagi ke Simpang Tiga. Yaitu ke Pos penjagaan terjauh dari kota Pekanbaru. Mereka hanya berani bergerak malam dengan kekuatan besar. Dan malam itu hanya sampai di sana penyelidikan mereka. Mereka tak berani bergerak di malam hari lebih lanjut. Takut akan serangan para pejuang. Mereka menanti hari siang untuk melanjutkan pencaharian. Dan begitu hari siang, pasukan segera ditambah dari Pekanbaru. Kini dengan enam buah kendaraan yang terdiri dari dua buah jeep bermitraliyur, dua buah kendaraan lapis baja, dan dua buah power wagon yang semuanya berkekuatan empat puluh pasukan berpakaian loreng mulai bergerak meninggalkan Simpang Tiga. Tujuan mereka hanya satu, Perhentian Marpuyan.



Hari masih subuh, ketika kampung kecil itu sudah dikepung oleh tentara Belanda tersebut.

Semua penduduk dikumpulkan di lapangan dekat sebuah sekolah. Anak-anak, lelaki perempuan, tua muda, tak ada yang tersisa satupun. Termasuk di dalamnya Liyas yang kemaren bersama si Bungsu menyikat Belanda di pendakian Pasir Putih itu.

Mereka dikumpulkan di lapangan dengan dikurung oleh panser dan jeep bermitraliyur yang dihadapkan pada mereka. Seorang KNIL segera maju. Kemudian mengajukan pertanyaan.



“Kalau kalian tak menjawab, maka kalian akan ditembak…” KNIL itu menggertak.



Tak ada yang menjawab. Karena kanak-kanak malah mendekat panser dan jeep bersenjata berat. Mereka terheran-heran melihat kendaraan itu.



“He, kowe lihat jeep dan truk lewat di sini?” seorang KNIL bertanya pada seorang anak yang mendekati pansernya. Anak itu melihat dengan heran.

“Kowe lihat jeep lewat sini? Nanti kowe saya kasi bon-bon..” KNIL itu bertanya lagi dengan bujukan sambil mengambil gula-gula dari kantongnya.



Liyas yang pejuang itu hanya melihat dengan tenang dari kejauhan. Dia tak usah khawatir bahwa rahasia akan terbongkar dari mulut anak-anak itu.

Soalnya bukan karena anak-anak itu seorang patriot. Tidak. Tapi sebabnya adalah karena hal lain. Dan hal lain itu segera terbukti, takkala anak yang ditanya dan disodorkan gula-gula itu menghadap pada teman sebayanya disampingnya tegak dan bertanya.



“Apo nyie bowuok go ang..?”Apa kata monyet ini? Temannya segera menjawab :

“Inyo maagie ang gulo-gulo”(Dia memberi engkau gula-gula)



Anak itu tertawa. Mengambil gula-gula itu.



“Mokasi yo wuok” (makasih nyet)



Kemudian membuka bungkusnya dan memakannya. Lalu pergi dari sana ke arah kumpulan orang banyak, tanpa mengacuhkan pertanyaan KNIL itu. Soalnya anak-anak di kampung itu seperti umumnya anak-anak di kampung lain di seluruh Indonesia, tak pandai berbahasa Indonesia. Bahasa mereka adalah bahasa kampung mereka sendiri. Saat itu belum berapa orang jumlah yang mengecap bangku sekolah. Dan yang tak berapa orang itu, semuanya adalah anak-anak yang berdiam di kota. Bukan di kampung.

KNIL yang gula-gula diambil itu hanya bisa garuk-garuk kepala. Dan dari mereka, serta dari penduduk, tak ada keterangan yang diperdapat. Jawaban tetap seperti kemaren. Yaitu kedua kendaraan itu menuju ke Teratak Buluh.



Tak lama kemudian, dua belas pencari jejak yang disebar kembali melapor pada Mayor yang memimpin operasi pencaharian itu. Kedua belas orangnya melaporkan tak menemukan jejak apapun! Rupanya Liyas dan penduduk Marpuyan telah bekerja dengan sempurna. Jejak kedua kendaraan itu memang berhasil dihapus seperti yang dikatakan si Bungsu. Demikian sempurnanya, sehingga tentara Belanda yang dalam perang Dunia ke II yang baru lalu tugas khususnya adalah mencari jejak kini tak menemukan apa-apa.

Liyas yang menanti kembalinya pencari jejak itu dengan perasaan tenang jadi merasa lega takkala dia lihat kedua belas pencari jejak itu melapor dengan perasaan kecewa.

Akhirnya penduduk dibubarkan dengan ancaman-ancaman. Mayor yang memimpin itu adalah Mayor Antonius. Dalam perang Dunia ke II melawan Jepang di Pasifik dia memimpin Kompi Gerak Cepat bersama sepasukan tentara Amerika di Pulau Guam.



Dan kali ini, firasat Mayor itu mengatakan bahwa jeep dan power yang lenyap misterius itu pastilah melewati jalan kecil menuju Buluh Cina ini kemaren. Tapi dia merasa heran, kenapa pencari jejak yang tangguh itu tak menemukan apa-apa?

Dia memerintahkan untuk menyelusuri jalan kecil itu terus ke pedalaman. Enam kendaraan yang siap perang itu segera merayap mengikuti jalan yang kemaren memang ditempuh si Bungsu dan teman-temannya. Liyas dan pejuang-pejuang lainnya menjadi tegang takkala melihat bahwa Belanda itu meneruskan jalan ke Buluh cina.



“Bagaimana sekarang?” seorang pejuang bertanya pada Liyas.

“Kita hanya bisa berserah diri pada Tuhan…” jawab Liyas.

“Kita bisa ke Buluh Cina lewat Teratak Buluh”

“Tak mungkin lagi. Untuk ke sana dibutuhkan satu jam pakai sepeda. Kemudian dengan sampan enam jam ke buluh Cina. Sedangkan mereka dalam waktu satu jam sudah akan sampai…” Suman berkata perlahan sambil menatap kendaraan itu lenyap di tikungan.

“Bagaimana kalau ketahuan?”

“Ada dua kemungkinan. Pertama semua kita mereka tembak dan Buluh Cina mereka gempur. Kedua mereka kita cegat ketika kembali”.

“Itu berarti bunuh diri. Kita tak punya kekuatan apa-apa. Di sini kita hanya ada sebelas orang dengan empat pucuk senjata api, selebihnya hanya memakai kelewang, parang, pisau dan bambu runcing!”

“Bagaimana putusan kita?”

“Saya berharap mereka tak menemukan apa-apa. Semoga lewat Bancah Limbat hujan turun malam tadi. Dan jejak terhapus sama sekali…..”



Dan memang itulah yang terjadi. Malam tadi hujan meski tak lebat, tapi turun di bahagian hutan lewat rawa yang bernama Bancah Limbat sampai Kutik. Dan semuanya melenyapkan jejak kemaren. Belanda meneliti tiap jengkal yang mereka lewati dalam usahanya mencari jejak patroli yang lenyap itu. Tak lama kemudian mereka berhenti di sebuah sungai kecil yang melintasi jalan. Sungai itu jernih sekali airnya. Jernih dan sejuk dengan pasir putih di dasarnya. Mayor Antonius menyuruh berhenti jeep komandonya. Dia tegak di bangku. Memandang dengan teropong kependakian di seberang sungai dangkal itu. Tak ada apa-apa yang mencurigakan. Dia turun. Mencuci muka disungai kecil yang sejuk itu. Meminum airnya yang juga terasa sejuk. Sementara dia mencuci muka dan minum itu, pasukannya siap di kedua sisi jalan dengan senjata siaga.



“Kita kembali!” perintahnya. Dan semua kendaraan itu, satu persatu berputar di sungai kecil tersebut.



Daerah di bawah pendakian itu memang cukup lebar untuk berputar. Kendaraan berputar disana sambil menambah air untuk kendaraan mereka. Dan putusan Mayor itu termasuk hal yang menyelamatkan penduduk kampung Kutik, Buluh Cina dan Perhentian Marpuyan!.

Sebab, kalau saja Mayor itu meneruskan langkahnya agak dua puluh meter lagi ke pertengahan pendakian dari sungai kecil di mana dia mencuci muka dan minum, maka dia pasti akan menemukan jejak pertempuran kemaren yang terkikis oleh hujan, dan tak terlenyapkan oleh penduduk Kutik.

Jejak itu berupa lobang-lobang bekas terkaman peluru 12,7 yang dimuntahkan oleh Suman! Di pertengahan pendakian itu ada lebih dari selusin jejak peluru. Kemaren memang ditimbun baik oleh Suman maupun penduduk Kutik. Tapi hujan yang turun malam tadi membuat timbunanitu melorot ke dalam. Dan jejak itu justru muncul lagi. Tapi untunglah, Tuhan masih melindungi mereka semua!

Dan sebelum petang datang, pasukan Belanda itu cepat-cepat menuju ke markas kembali. Mereka memang tak berani berada di daerah Republik itu di malam hari meski dengan kekuatan persenjataan yang tak tanggung-tanggung.

Mereka hanya berani berpatroli di siang hari. Dan begitu malam akan turun mereka cepat-cepat menarik diri ke markas.

Besoknya pencarian dilanjutkan lagi. Namun jejak yang mereka cari semakin lenyap. Dan akhirnya pencaharian itu dihentikan sama sekali. Sebab setelah itu, Belanda disibukkan oleh peperangan-peperangan dengan tentara Indonesia.



Di Buluh Cina.



Rumah-rumah kampung itu semuanya adalah rumah panggung dengan tiang-tiang tinggi. Kampung itu terletak di seberang sungai Kampar, kalau datang dari arah Pekanbaru. Sungai itu senantiasa menghanyutkan airnya yang berwarna jernih ke hilir.

Hanya ada sekitar seratus rumah di kampung itu. Memanjang di tepian sungai Kampar dari Barat ke Timur. Di bagian tengah kampung ada sebuah mesjid. Di bagian agak ke hulu ada pandam pekuburan kampung.

Kampung dipenuhi oleh rumpun kelapa. Di bawah bayang-bayang daun kelapa ini rumah-rumah penduduk didirikan. Rumah dibuat tinggi dari tanah dengan dua maksud. Pertama menghindarkan banjir dari sungai Kampar yang selalu datang melanda. Kedua menghindarkan diri dari serangan harimau yang sering mengganas di kampung itu.

Mata pencaharian penduduk tak ada yang tetap. Itu bukan berarti di sana banyak sekali mata pencahariannya. Tidak. Sumber kehidupan mereka hanya tiga hal. Satu karet, kedua ikan dan ketiga berladang.



Karet dan ikan merupakan mata pencaharian yang agak tetap. Sementara hasil ladang hanya cukup untuk keperluan anak beranak. Mereka masih menerapkan sistim berladang kaum Nomaden. Hari ini berladang di suatu tempat yang subur. Kalau akan membuka ladang, terlebih dahulu harus menebas hutan belantara. Kemudian dibiarkan kering. Lalu dibakar. Dan setelah itu bekas bakar dibersihkan ala kadarnya.

Kemudian langsung ditanami jagung dan padi. Selama proses ini tak kenal penggunaan cangkul atau alat-alat pertanian lainnya. Untuk menanam padi atau jagung lobang dibuat dengan menghujamkan tugak, yaitu sepotong kayu sebesar lengan yang diruncingkan ujungnya kebawah dan dihentakkan ke tanah. Ke lobang itu benih jagung atau padi dimasukkan.



Dan hanya proses waktu dan alam saja yang mereka tunggu selanjutnya untuk menumbuhkan, membesarkan dan membuat padi dan jagung itu panen. Tapi begitu panen sudah dipetik, maka ladang itu mereka tinggalkan. Tahun depan mereka merambah hutan yang lain pula untuk berladang. Begitu terus.

Ini menyebabkan mereka tak pernah mempunyai ladang yang tetap. Tak pernah berladang di mana tumbuh tanaman keras. Mereka pindah terus dari satu hutan ke hutan lain untuk berladang meski ladang terdahulu tanahnya masih tetap subur untuk beberapa tahun lagi.

Kebun karet mereka umumnya tak terurus. Ditumbuhi semak belukar dan dijalari rotan. Bahagian yang baik hanyalah sedikit di sekitar pohon yang akan ditakik saja. Tak heran kalau kebun karet yang mereka sebut dengan kebun para itu menjadi sarang harimau. Dan tak heran pula banyak penakik-penakik getah itu menjadi mangsa raja hutan tersebut.

Mata pencaharian yang ketiga adalah ikan. Mereka menangkapi ikan di sepanjang batang Kampar atau di dua danau kecil yang terdapat di balik kampung itu.

Karet dan ikan inilah mata pencaharian mereka yang agak memadai. Memadai dalam arti sekedar cukup untuk menyambung hidup dari hari ke hari. Sebab baik memotong karet maupun menangkap ikan mereka lakukan secara tradisionil.



Pendekar Dari Kaki Gunung Sago ; Bagian 062

No comments:

Post a Comment